SELAMAT DATANG DI BLOGSPOT BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PEMERINTAHAN DESA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN BENGKAYANG

Minggu, 06 Mei 2012

Kekuasaan Bermoral


Itulah misteri kekuasaan  kata Hasyim Asy”ari. Dengan kekuasaannya kepala daerah dapat melakukan apa saja sesuai kehendaknya dengan segenap instrument dan sumber daya yang dimiliki. Seseorang kepala daerah berwenang menunjuk siapa saja yang menjadi kepala dinas. Namun dalam politik ada keyakinan “there is no free lunch in politics”. Ini mungkin menjadi salah satu sumber  “pendapatan” di luar gaji seorang kepala daerah. Itu hanya salah satu contoh,masih banyak contoh lain jika di teruskan. Secara kasat mata,realitas itu menuntun kita membuka tabir misteri kekuasaan,yaitu berlakunya hukum alam politik “money get to power and than gets more money”. Kekuasaan membuat kecanduan,mirip dengan kecanduan rokok. Seorang yang berkuasa dalam kurun waktu yang lama akan kecanduan kekuasaan,yang membuat hidupnya menjadi tidak normal  jika tidak menggenggam kekuasaan.
Ketergantungan pada kekuasaan membuat seorang penguasa menjadi terlalu sensitif pada kekuasaannya. Kritik atau sikap yang berlawanan dengan kekuasaannya yang datang dari orang lain akan dipandang sebagai usaha menjatuhkan kekuasaannya,dan tidak legowo jika digantikan oleh orang lain. Kalaupun harus digantikan masih berkaitan dengan menjaga kepentingannya.
Menurut Musa Asyari (2010:52), nyandu kekuasaan sangat berbahaya,bahkan lebih berbahaya daripada nyandu narkoba,karena akan berdampak “sistemik” bagi kehidupan masyarakat. Seorang penguasa atau pejabat yang nyandu kekuasaan akan melahirkan kebijakan dan tindakan yang korup,yang hanya menguntungkan dirinya dan kelompoknya,kemudian merugikan yang lainnya dan dapat mengganggu kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
            Demokrasi politik yang berlandaskan etika politik menjadi solusi menghadapi keruwetan dan carut marutnya kekuasaan. Karena dalam demokrasi politik kekuasaan harus selalu dikontrol secara ketat agar penguasa tidak “memiliki” kekuasaan. Seorang penguasa juga harus bersikap demokratis,terbuka dan bersikap positif dalam mengantarkan generasi pemimpin berikutnya. Etika politik memberikan landasan etis dan tingkah laku bermoral para penguasa.
Tanggung jawab moral dan politik yang berkeutamaan sebagai bagian hakiki dari setiap praktek politik ketika kebaikan dan kesejahteraan masyarakat menjadi taruhannya. Tetapi tampaknya keyakinan ini berubah menjadi semacam pesimisme politik ketika para pemegang kekuasaan mempraktikkan kekuasaan tanpa tanggung jawab politik,katakan saja ketidakpekaan pada kepentingan public,memperkaya diri,atau upaya pelanggengan kekuasaan dan semacamnya. Dalam kondisi demikian pandangan klasik bahwa konsumerisme telah menganeksasi wilayah keutamaan moral dan mengaburkan kemampuan membedakan moral execellence dari moralitas binatang yang mengutamakan kenikmatan dapat diterima. Akibatnya,alih-alih mengutamakan kepentingan masyarakat yang mereka pimpin,para penguasa menghapus tanggung jawab moral dan politik dari kamus kekuasaan mereka.
            Dalam textbook filsapat politik,ada pemikiran kekuasaan sebagai tujuan politik yang dikembangkan oleh Niccollo Machiavelli yang menyatakan bahwa seorang penguasa harus memiliki dua watak ,yaitu watak manusia dan binatang. Untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan penguasa harus mengedepankan watak binatangnya yang buas dan kejam. Sedangkan untuk menarik simpati rakyat penguasa harus menggunakan pendekatan-pendekatan humanisme. Machiavelli menolak tegas doktrin Thomas Aquinas tentang gambaran penguasa yang baik. Aquinas dalam karyanya The Government of princes berpendapat bahwa penguasa yang baik harus menghindari godaan kejayaan  dan kekayaan-kekayaan duniawi agar memperoleh ganjaran surgawi kelak, (Suhelmi,2001 : 133). Bagi Machiavelli sebaliknya,penguasa yang baik harus berusaha mengejar kekayaan dan kejayaan karena keduanya merupakan nasib mujur yang di miliki seorang penguasa. Dan nampaknya para penguasa di Indonesia memiliki persepsi seperti ini,sehingga benar apa yang disampaikan oleh Musa Asy”ari,banyak pemimpin kita yang kecanduan kekuasaan. Bagi Machiavelli kekuasaan adalah raison d’etre negara. Negara menjadi simbolisasi tertinggi kekuasaan politik yang sifatnya mencakup semua (all embracing) dan mutlak (ibid). Pendapat Machiavelli inilah yang kemudian menjadikan beberapa sarjana berkesimpulan,bahwa Machiavelli memiliki obsesi terhadap Negara kekuasaan (maachstaat) dimana kedaulatan tertinggi terletak pada kekuasaan penguasa bukan rakyat dan prinsip-prinsip hukum (reechtaat).
            Namun,dalam filsafat politik orang tidak hanya berhenti pada cara berpikir monokausal (meminjam istilah dari Frans Magnis Suseno). Kita diajak mencari hakikat politik,meneliti sumber dan dasarnya,menganalisis beragam sistim politik,yang riil dan yang mungkin,menspesifikasikan tujuan-tujuan politik,menentukan kategori-kategori institusional dan rezimnya.
Eric Weil,yang mengambil posisi bertentangan dengan Machiavelli,mengatakan bahwa filsafat politik merupakan suatu gerak yang berangkat dari moral dan melampauinya dalam teori tentang Negara (Haryatmoko, 2004 : 23). Tentu saja politik bukan seperti yang dipahami politikus,tapi yang dimengerti oleh orang yang mencari makna dan nilai di dalam politik. Jadi perlu ditunjukan dan diperjelas bahwa filsafat politik berangkat dari moral. Moral adalah segala-galanya, sedangkan Negara atau kekuasaan adalah alat bukan tujuan.
by hatari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar